Kota Tegal, Panjikita.id — Wakil Wali Kota Tegal Tazkiyyatul Muthmainnah mengajak seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk berani bersuara melawan kekerasan seksual.
Seruan itu disampaikannya sebagai pemateri dalam kegiatan Workshop dan Bedah Buku “Perawan (Antara Kisah dan Realita)” yang digelar Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kota Tegal di Ruang Rapat Paripurna DPRD Kota Tegal, Minggu (27/9/2026).
Kegiatan ini menjadi ruang dialog terbuka mengenai perlindungan dan pemberdayaan perempuan, sekaligus meningkatkan kesadaran publik terhadap berbagai bentuk kekerasan seksual yang masih terjadi di lingkungan sekitar.
Selain Tazkiyyatul, hadir sebagai pembicara Sekretaris Komisi III DPRD Kota Tegal Nur Fitriani serta penulis buku Uswatun Khasanah. Ketua GMNI Kota Tegal M. Lutfi Azkiya turut membuka acara tersebut.
Dalam pemaparannya, Tazkiyyatul menekankan bahwa forum edukasi seperti ini tidak harus berskala besar, melainkan dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.
“Forum seperti ini harus diperbanyak dan tidak perlu besar. Yang penting konsisten dan tetap menyala. Anak muda di Kota Tegal jangan redup dalam menyuarakan kekerasan seksual,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa banyak pelaku kekerasan justru berasal dari lingkungan terdekat korban. Karena itu, kesadaran dan keberanian untuk melapor menjadi kunci utama.
Pemerintah Kota Tegal berkomitmen menjadikan kota ini kawasan ramah anak, namun dukungan seluruh elemen masyarakat, termasuk kalangan mahasiswa sangat dibutuhkan.
Sementara itu, Nur Fitriani menyampaikan data hingga September 2026 tercatat 62 kasus kekerasan di Kota Tegal, di mana 45 kasus di antaranya melibatkan anak.
Angka tersebut dinilai belum mencerminkan fakta sesungguhnya, karena banyak korban memilih diam akibat rasa malu maupun ketergantungan ekonomi terhadap pelaku.
“Yang melapor hanya sebagian kecil. Kebanyakan memilih diam karena malu atau bergantung secara ekonomi,” ungkapnya.
Fitriani menegaskan bahwa kekerasan bukanlah kesalahan korban, bukan takdir, dan bukan ajaran agama. Ia juga mengutip data bahwa 15,8 persen kekerasan oleh pasangan terjadi tanpa alasan yang jelas, sehingga pencegahan dini di lingkungan keluarga menjadi sangat mendesak.
Penulis buku Uswatun Khasanah menjelaskan, karyanya berupaya membongkar mitos keperawanan yang selama ini kerap dijadikan patokan nilai seorang perempuan.
Ia mengingatkan bahwa lingkungan yang seharusnya menjadi tempat aman termasuk rumah, dalam sejumlah kasus justru menjadi sumber ketakutan bagi perempuan dan anak.
Ketua GMNI Kota Tegal M. Lutfi Azkiya menyatakan kegiatan ini lahir dari keprihatinan melihat praktik kekerasan yang masih terjadi di sekitar.
Melalui diskusi dan kajian bersama, pihaknya berharap sinergi antara pemerintah, legislatif, dunia akademik, dan masyarakat semakin kokoh dalam membangun Kota Tegal yang aman, ramah perempuan, serta ramah anak.







